MORFOLOGI TUMBUHAN ( Akar , Batang , Daun )

MORFOLOGI TUMBUHAN COY

              Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mengkaji berbagai organ tumbuhan, baik bagian-bagian, bentuk maupun fungsinya.

Secara klasik, tumbuhan terdiri dari tiga organ dasar:

Akar

Batang

Daun

AKAR

Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus.

Sifat-sifat akar:

1. merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya.

2. tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainya.

3. warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.

4. tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah.

5. bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah.

Fungsi akar bagi tumbuhan:

1. memperkuat berdirinya tumbuhan.

2. untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tersebut dari dalam tanah.

3. mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan.

4. kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan.

Jenis akar

Secara umum, ada dua jenis akar yaitu:

1. Akar serabut. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil. Walaupun terkadang, tumbuhan dikotil juga memilikinya (dengan catatan, tumbuhan dikotil tersebut dikembangbiakkan dengan cara cangkok, atau stek). Fungsi utama akar serabut adalah untuk memperkokoh berdirinya tumbuhan.

2. Akar tunggang. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan makanan.

Modifikasi akar

1. Akar napas. Akar naik ke atas tanah, khususnya ke atas air seperti pada genera Mangrove (Avicennia, Soneratia).

2. Akar gantung. Akar sepenuhnya berada di atas tanah. Akar gantung terdapat pada tumbuhan epifit Anggrek.

3. Akar banir. Akar ini banyak terdapat pada tumbuhan jenis tropik.

4. Akar penghisap. Akar ini terdapat pada tumbuhan jenis parasit seperti benalu.

BATANG

Batang merupakan bagian dari tumbuhan yang amat penting, dan mengingat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalu bersifat aktinomorf.

2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-buku inilah terdapat daun.

3. Biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop)

4. Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.

5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.

6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda.

DAUN

Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.

Morfologi

Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.

Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.

Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).

Fungsi

* Tempat terjadinya fotosintesis.

pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan parenkim palisade. sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada jaringan spons.

* Sebagai organ pernapasan.

Di daun terdapat stomata yang befungsi sebagai organ respirasi (lihat keterangan di bawah pada Anatomi Daun).

* Tempat terjadinya transpirasi.

* Tempat terjadinya gutasi.

* Alat perkembangbiakkan vegetatif.

Misalnya pada tanaman cocor bebek (tunas daun).

Anatomi

Organ-organ lain dapat digolongkan sebagai organ sekunder karena terbentuk dari modifikasi organ dasar. Beberapa organ sekunder dapat disebut sebagai organ aksesori, karena fungsinya tidak vital. Beberapa organ sekunder penting:

BUNGA

Bunga (flos) atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, “tumbuhan berbiji tertutup”). Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga secara sehari-hari juga dipakai untuk menyebut struktur yang secara botani disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan. Dalam konteks ini, satuan bunga yang menyusun bunga majemuk disebut floret.

Bunga berfungsi utama menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah. Buah adalah struktur yang membawa biji.

Fungsi bunga

Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji.

Beberapa bunga memiliki warna yang cerah dan secara ekologis berfungsi sebagai pemikat hewan pembantu penyerbukan. Beberapa bunga yang lain menghasilkan panas atau aroma yang khas, juga untuk memikat hewan untuk membantu penyerbukan.

Manusia sejak lama terpikat oleh bunga, khususnya yang berwarna-warni. Bunga menjadi salah satu penentu nilai suatu tumbuhan sebagai tanaman hias.

Morfologi bunga

Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air (lihat artikel Pembentukan bunga).

Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf (“berbentuk bintang”, simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.

Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:

* Kelopak bunga atau calyx;

* Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan;

* Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari;

* Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: “rumah wanita”) berupa putik.

Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah.

Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur tumbuhan yang “umum”, spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dua subkelas dari tanaman berbunga dibedakan dari jumlah organ bunganya: tumbuhan dikotil umumnya mempunyai 4 atau 5 organ (atau kelipatan 4 atau 5) sedangkan tumbuhan monokotil memiliki tiga organ atau kelipatannya.

BUAH

Buah adalah organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan.

Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau pangan adalah lebih luas daripada pengertian buah di atas. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengertian botani biasa disebut buah sejati.

Buah seringkali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya disimpan berbagai macam produk metabolisme tumbuhan, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, alkaloid, hingga terpena dan terpenoid. Ilmu yang mempelajari segala hal tentang buah dinamakan pomologi.

Buah dalam arti botani dan arti pertanian atau pangan

Arti botani

Dalam pandangan botani, buah adalah sebagaimana tercantum pada paragraf pertama di atas. Pada banyak spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Bagi tumbuhan berbunga, buah adalah alat untuk menyebar luaskan biji-bijinya; adanya biji di dalam dapat mengindikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski ada pula biji yang tidak berasal dari buah.[1]

Dalam batasan tersebut, variasi buah bisa sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah tomat, cabai, dan lain-lain. Namun juga bulir (kariopsis) padi, ‘biji’ (juga merupakan bulir!) jagung, ‘biji’ bunga-matahari, ‘biji’ lada, atau polong kacang tanah. Sementara, dengan batasan ini, buah jambu monyet atau buah nangka tidak termasuk buah sejati.

Arti hortikultura atau pangan

Buah dalam pengertian hortikultura atau pangan merupakan pengertian yang dipakai oleh masyarakat luas. Dalam pengertian ini, batasan buah menjadi longgar. Setiap bagian tumbuhan di permukaan tanah yang tumbuh membesar dan (biasanya) berdaging atau banyak mengandung air dapat disebut buah.

Dapat dijumpai, buah sejati (dalam pengertian botani) yang digolongkan sebagai sayur-sayuran, seperti buah tomat, buah cabai, polong kacang panjang, dan buah ketimun. Namun demikian, dapat dijumpai pula, buah tidak sejati (buah semu) yang digolongkan sebagai buah-buahan, seperti ‘buah’ jambu monyet (yang sebetulnya merupakan pembesaran dasar bunga; buah yang sejati adalah bagian ujung yang berbentuk seperti monyet membungkuk), ‘buah’ nangka (yakni pembesaran tongkol bunga; buah yang sejati adalah isi buah nangka yang berwarna putih (Jw. beton), bergetah, sedangkan bagian ‘daging buah’ yang dimakan orang adalah tenda bunga), atau ‘buah’ nanas.

Pembentukan buah

Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium). Setiap bakal buah berisi satu atau lebih bakal biji (ovulum), yang masing-masing mengandung sel telur. Bakal biji itu dibuahi melalui suatu proses yang diawali oleh peristiwa penyerbukan, yakni berpindahnya serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik. Setelah serbuk sari melekat di kepala putik, serbuk sari berkecambah dan isinya tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang berisi sperma. Buluh ini terus tumbuh menembus tangkai putik menuju bakal biji, di mana terjadi persatuan antara sperma yang berasal dari serbuk sari dengan sel telur yang berdiam dalam bakal biji, membentuk zigot yang bersifat diploid. Pembuahan pada tumbuhan berbunga ini melibatkan baik plasmogami, yakni persatuan protoplasma sel telur dan sperma, dan kariogami, yakni persatuan inti sel keduanya.[2]

Setelah itu, zigot yang terbentuk mulai bertumbuh menjadi embrio (lembaga), bakal biji tumbuh menjadi biji, dan dinding bakal buah, yang disebut perikarp, tumbuh menjadi berdaging (pada buah batu atau drupa) atau membentuk lapisan pelindung yang kering dan keras (pada buah geluk atau nux). Sementara itu, kelopak bunga (sepal), mahkota (petal), benangsari (stamen) dan putik (pistil) akan gugur atau bisa jadi bertahan sebagian hingga buah menjadi. Pembentukan buah ini terus berlangsung hingga biji menjadi masak. Pada sebagian buah berbiji banyak, pertumbuhan daging buahnya umumnya sebanding dengan jumlah bakal biji yang terbuahi.[3]

Dinding buah, yang berasal dari perkembangan dinding bakal buah pada bunga, dikenal sebagai perikarp (pericarpium). Perikarp ini sering berkembang lebih jauh, sehingga dapat dibedakan atas dua lapisan atau lebih. Yang di bagian luar disebut dinding luar, eksokarp (exocarpium), atau epikarp (epicarpium); yang di dalam disebut dinding dalam atau endokarp (endocarpium); serta lapisan tengah (bisa beberapa lapis) yang disebut dinding tengah atau mesokarp (mesocarpium).[4]

Pada sebagian buah, khususnya buah tunggal yang berasal dari bakal buah tenggelam, terkadang bagian-bagian bunga yang lain (umpamanya tabung perhiasan bunga, kelopak, mahkota, atau benangsari) bersatu dengan bakal buah dan turut berkembang membentuk buah. Jika bagian-bagian itu merupakan bagian utama dari buah, maka buah itu lalu disebut buah semu. Itulah sebabnya menjadi penting untuk mempelajari struktur bunga, dalam kaitannya untuk memahami bagaimana suatu macam buah terbentuk.

Tipe-tipe buah

Buah-buah itu sedemikian beragam, sehingga sukarlah rasanya untuk menyusun suatu skema pengelompokan yang dapat mencakup semua macam buah yang telah dikenal orang. Belum lagi adanya kekeliruan-kekeliruan yang mempertukarkan pengertian biji dan buah (misal: ‘biji’ jagung, yang sesungguhnya adalah buah secara botani).

Baik buah sejati (yang merupakan perkembangan dari bakal buah) maupun buah semu, dapat dibedakan atas tiga tipe dasar buah, yakni:[4]

* buah tunggal, yakni buah yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu biji atau lebih.

* buah ganda, yakni jika buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah. Masing-masing bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri, lepas-lepas, namun akhirnya menjadi kumpulan buah yang nampak seperti satu buah. Contohnya adalah sirsak (Annona).

* buah majemuk, yakni jika buah terbentuk dari bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Contohnya adalah nanas (Ananas), bunga matahari (Helianthus).

Buah kering

Buah tunggal, atau tepatnya buah sejati tunggal, lebih jauh lagi dapat dibedakan atas bentuk-bentuk buah kering (siccus), yakni yang bagian luarnya keras dan mengayu atau seperti kulit yang kering; dan buah berdaging (carnosus), yang dinding buahnya tebal berdaging.

Buah kering selanjutnya dibedakan atas buah yang tidak memecah (indehiscens) dan yang memecah (dehiscens). Buah indehiscens berisi satu biji, sehingga untuk memencarkan bijinya buah ini tidak perlu memecah. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah buah tipe padi, tipe kurung, dan tipe keras.

Buah padi (caryopsis)

Buah padi (caryopsis, atau bulir) memiliki dinding buah yang tipis, dan berlekatan menyatu dengan kulit biji. Kulit biji ini kadang-kadang berlekatan pula dengan biji. Buah terbungkus oleh sekam. Buah suku padi-padian (Poaceae) dan teki-tekian (Cyperaceae) termasuk ke dalam kelompok ini.

Bulir atau buah padi adalah buah sekaligus biji. Bagian buah terletak di sebelah luar, terdiri dari lemma, palea, dan skutelum (scutellum). Bagian biji terdiri dari lapisan aleuron (hanya setebal satu lapis sel), endospermia (tempat penyimpanan cadangan makanan), dan embrio.

Buah kurung (achenium)

Buah kurung (achenium) memiliki dinding buah yang tipis, berdempetan namun tidak berlekatan dengan kulit biji. Contohnya adalah buah (‘biji’) bunga pukul empat (Mirabilis). Buah kurung majemuk contohnya adalah (buah) bunga matahari.

Buah keras (nux)

Buah keras atau geluk (nux) terbentuk dari dua helai daun buah (carpel) atau lebih; bakal biji lebih dari satu, namun biasanya hanya satu yang menjadi biji sempurna. Dinding buah keras, kadangkala mengayu, tidak berlekatan dengan kulit biji. Contohnya adalah buah sarangan (Castanopsis).

Beberapa jenis buah keras, kulitnya mengalami pelebaran sehingga membentuk semacam sayap yang berguna untuk menerbangkan buah ini—jika masak—menjauh dari pohon induknya. Buah bersayap (samara) semacam ini contohnya adalah buah meranti (Shorea) dan kerabatnya dari suku Dipterocarpaceae.

Buah kering yang memecah (dehiscens) umumnya berisi lebih dari satu biji, sehingga memecahnya buah nampaknya terkait dengan upaya untuk memencarkan biji, agar tidak terkumpul di suatu tempat. Misalnya adalah:

Buah berbelah (schizocarpium)

Buah berbelah (schizocarpium) memiliki dua ruang atau lebih, masing-masing dengan sebutir biji di dalamnya. Jika memecah, ruang-ruang itu terpisah namun bijinya masih terbawa di dalam ruang. Sehingga masing-masing ruang seolah buah kurung yang tersendiri. Contohnya adalah kemangi (Ocimum), beberapa jenis anggota Malvaceae, dan lain-lain.

Buah kendaga

Buah kendaga (rhegma) seperti buah belah, namun ruang-ruang itu masing-masing memecah, sehingga bijinya terlempar keluar. Masing-masing ruang terbentuk dari satu daun buah. Contoh: para (Hevea), jarak (Ricinus).

Buah kotak

Terdiri atas satu atau beberapa daun buah, berbiji banyak. Buah ini memecah jika masak, namun kulit buah yang pecah sampai lama tidak terlepas dari tangkai buah. Ada banyak macam buah kotak. Buah kotak sejati (capsula) terdiri atas dua daun buah atau lebih; jumlah ruangannya sesuai dengan jumlah daun buah asalnya. Buah ini membuka dengan bermacam-macam cara. Contohnya adalah durian (Durio), anggrek (Orchidaceae). ‘Daging buah’ durian yang dimakan sebetulnya adalah arilus (salut biji), perbesaran dari selaput penutup biji.

Selain itu, masih ada lagi beberapa jenis buah kotak seperti berikut ini:

Buah bumbung

Buah bumbung (folliculus) berasal dari bakal buah yang terdiri atas satu daun buah dengan banyak biji. Jika masak, kotak terbelah menurut salah satu kampuhnya, biasanya kampuh perut. Contohnya adalah widuri (Calotropis), kepuh (Sterculia).

Buah polong

Buah polong (legumen) terdiri atas satu daun buah dengan satu ruangan dan banyak biji; sering pula ruangan ini terpisah-pisah oleh sekat semu. Jika masak, ruangan akan terbuka menurut kedua kampuhnya yang memanjang. Contohnya adalah aneka jenis polong-polongan (Fabaceae, atau dulu disebut Leguminosae).

Buah lobak

Buah lobak (siliqua) tersusun dari dua daun buah dengan satu ruangan yang tersekat oleh sekat semu. Buah terpecah menurut kedua kampuhnya ketika masak, namun ujungnya masih berlekatan. Biji sebentar masih melekat pada sekat semu, yang sebetulnya adalah tembuni, sebelum pada akhirnya terlepas. Contohnya adalah jenis-jenis Cruciferae.

Buah berdaging

Buah-buah tunggal berdaging pada umumnya tidak memecah (membuka) ketika masak. Salah satu perkecualiannya adalah pala (Myristica). Beberapa bentuk buah berdaging, di antaranya:

Buah buni

Buah buni (bacca) mempunyai dinding buah terdiri dari dua lapisan, yakni lapisan luar (eksokarp atau epikarp) yang tipis dan lapisan dalam (endokarp) yang tebal, lunak dan berair. Biji-biji lepas dalam lapisan dalam tersebut. Contohnya adalah buni (Antidesma), belimbing (Averrhoa), jambu biji (Psidium), tomat (Lycopersicum) .

Buah mentimun

Buah mentimun (pepo) serupa dengan buah buni, namun dengan dinding luar yang lebih tebal dan kuat. Pada buah yang masak, di tengahnya sering terdapat ruangan dan daging buahnya bersatu dengan banyak biji di dalam ruangan tersebut. Contohnya adalah mentimun (Cucurbita) dan kerabatnya.

Buah jeruk

Buah jeruk (hesperidium) adalah variasi dari buah buni dengan tiga lapisan dinding buah. Lapisan luar yang liat dan berisi kelenjar minyak; lapisan tengah yang serupa jaringan bunga karang dan umumnya keputih-putihan; serta lapisan dalam yang bersekat-sekat, dengan gelembung-gelembung berisi cairan di dalamnya. Biji-biji tersebar di antara gelembung-gelembung itu. Contoh: buah jeruk (Citrus).

Buah batu

Buah batu (drupa) memiliki tiga lapisan dinding buah. Eksokarp umumnya tipis menjangat (seperti kulit); mesokarp yang berdaging atau berserabut; dan endokarp yang liat, tebal dan keras, bahkan dapat amat keras seperti batu. Contohnya adalah mangga (Mangifera), dengan mesokarp berdaging; atau kelapa (Cocos), yang mesokarpnya berserabut.

Buah delima

Dinding luarnya liat, keras atau kaku, hampir seperti kayu; dinding dalam tipis, liat, bersekat-sekat. Masing-masing ruang dengan banyak biji. Selaput biji tebal berair dan dapat dimakan. Contohnya adalah delima (Punica).

Buah ganda

Buah berganda adalah buah yang terbentuk dari satu kuntum bunga yang memiliki banyak bakal buah. Tiap-tiap bakal buah itu tumbuh menjadi buah yang tersendiri, lepas-lepas, namun akhirnya menjadi kumpulan buah yang nampak seperti satu buah. Sesuai dengan bentuk-bentuk buah penyusunnya, maka dikenal beberapa macam buah berganda. Misalnya:

* buah kurung berganda, misalnya pada buah mawar (Rosa).

* buah bumbung berganda, misalnya pada cempaka (Michelia).

* buah buni berganda, misalnya pada sirsak (Annona).

* buah batu berganda, misalnya pada murbei (Morus).

Buah majemuk

Buah majemuk adalah buah hasil perkembangan bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang tumbuh sedemikian sehingga pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Dikenal pula beberapa macam buah majemuk, di antaranya:

* buah padi majemuk, misalnya jagung (Zea). Tongkol jagung sebetulnya berisi deretan buah-buah jagung, bukan biji jagung.

* buah kurung majemuk, misalnya buah bunga matahari (Helianthus).

* buah buni majemuk, misalnya buah nanas (Ananas).

* buah batu majemuk, misalnya buah pandan (Pandanus), pace (Morinda).

tahap-tahap perkembangan buah majemuk pada pace. Bunga-bunga pace berkumpul dalam satu perbungaan (bunga majemuk) yang disebut bongkol. Setelah diserbuki dan dibuahi, setiap kuntum bunga mulai tumbuh menjadi buah batu (drupa). Dalam perkembangannya, buah-buah batu ini pada akhirnya saling luluh menjadi sebutir buah batu majemuk.[6]

Sesuai dengan definisi, buah ganda dan buah majemuk sukar disebut buah sejati. Karena pada buah-buah tersebut terdapat bagian-bagian lain dari bunga –selain bakal buah– yang turut bertumbuh dan berkembang menjadi buah, baik bagian-bagian itu menjadi bagian utama buah ataupun bukan.

Buah tak berbiji

Keadaan tak berbiji merupakan salah satu ciri penting buah-buahan komersial. Kultivar-kultivar pisang dan nanas adalah contohnya. Demikian pula, buah-buah jeruk, anggur, dan semangka dari kultivar tak berbiji umumnya dihargai lebih mahal. Keadaan tak berbiji demikian biasa pula disebut sukun.[7]

Pada sejumlah spesies, keadaan tak berbiji merupakan hasil dari partenokarpi, yakni proses pembentukan buah tanpa terjadinya pembuahan sebelumnya. Buah partenokarpi bisa terbentuk dengan atau tanpa peristiwa penyerbukan. Kebanyakan kultivar jeruk sukun memerlukan penyerbukan untuk proses pembentukannya; namun pisang dan nanas tidak memerlukannya. Sementara itu, keadaan tak berbiji pada anggur sebetulnya terjadi karena matinya atau tidak tumbuhnya embrio (dan biji) yang dihasilkan oleh pembuahan, keadaan yang dikenal sebagai stenospermokarpi, yang memerlukan proses penyerbukan dan pembuahan secara normal

Pemencaran biji

Variasi dalam bentuk dan struktur buah terkait dengan upaya-upaya pemencaran biji. Pemencaran ini bisa terjadi dengan bantuan hewan, angin, aliran air, atau proses pecahnya buah yang sedemikian rupa sehingga melontarkan biji-bijinya sampai jauh.[9]

Pemencaran oleh binatang (zookori)

Pemencaran oleh binatang biasa terjadi pada buah-buah yang memiliki bagian-bagian yang banyak mengandung gula atau bahan makanan lainnya. Musang, misalnya, menyukai buah-buah yang manis atau mengandung tepung dan minyak yang menghasilkan energi. Aneka macam buah, termasuk pepaya, kopi dan aren, dimakannya namun biji-bijinya tidak tercerna dalam perutnya. Biji-biji itu, setelah terbawa ke mana-mana dalam tubuh musang, akhirnya dikeluarkan bersama tinja, di tempat yang bisa jadi cukup jauh dari pohon asalnya. Demikian pula yang terjadi pada beberapa macam biji-biji rumput dan semak yang dimakan oleh ruminansia. Pemencaran seperti itu disebut endozoik.[4] Dari golongan burung, telah diketahui sejak lama bahwa burung cabe (Dicaeidae) memiliki keterkaitan yang erat dengan penyebaran beberapa jenis pasilan atau benalu (Loranthaceae); yang buah-buahnya menjadi makanan burung tersebut dan bijinya yang amat lengket terbawa pindah ke pohon-pohon lain.[10][11]

Cara lain adalah apa yang disebut epizoik, yakni pemencaran dengan cara menempel di bagian luar tubuh binatang. Buah atau biji yang epizoik biasanya memiliki kait atau duri, agar mudah melekat dan terbawa pada rambut, kulit atau bagian badan binatang lainnya. Misalnya pada buah-buah rumput jarum (Andropogon), sangketan (Achyranthes), pulutan (Urena) dan lain-lain.[4]

Pemencaran oleh angin (anemokori)

Di kawasan hutan hujan tropika, pemencaran oleh angin merupakan cara yang efektif untuk menyebarkan buah dan biji, nomor dua setelah pemencaran oleh binatang.[12] Tidak mengherankan jika Dipterocarpaceae, kebanyakan memiliki bentuk buah samara, menjadi salah satu suku pohon yang mendominasi tegakan hutan di Kalimantan dan Sumatra. Tumbuhan lain yang memanfaatkan angin, yang juga melimpah keberadaannya di hutan hujan ini, adalah jenis-jenis anggrek (Orchidaceae). Buah anggrek merupakan buah kotak yang memecah dengan celah-celah, untuk melepaskan biji-bijinya yang halus dan mudah diterbangkan angin.[4]

Alih-alih buahnya, pada jenis-jenis tumbuhan tertentu adalah bijinya yang memiliki sayap atau alat melayang yang lain. Biji-biji bersayap ini misalnya adalah biji bayur (Pterospermum), mahoni (Swietenia), atau tusam (Pinus). Biji kapas (Gossypium) dan kapok (Ceiba) memiliki serat-serat yang membantunya melayang bersama angin.

Pemencaran oleh air (hidrokori)

Buah-buah yang dipencarkan oleh air pada umumnya memiliki jaringan pengapung (seperti gabus) yang terisi udara atau jaringan yang tak basah oleh air. Misalnya adalah jaringan sabut pada buah-buah kelapa (Cocos), ketapang (Terminalia) atau putat (Barringtonia).[4]

Buah bakau (Rhizophora) telah berkecambah semasa masih melekat di batangnya (vivipar). Akar lembaga dan hipokotilnya tumbuh memanjang keluar dari buah dan menggantung di ujung ranting, hingga pada saatnya kecambah terlepas dan jatuh ke lumpur atau air di bawahnya.[13] Kecambah yang jatuh ke lumpur mungkin langsung menancap dan seterusnya tumbuh di situ; namun yang jatuh ke air akan terapung dan bisa jadi terbawa arus air sungai atau laut hingga ke tempat yang baru, di mana kecambah itu tersangkut dan tumbuh menjadi pohon.

Pemencaran sendiri

Beberapa banyak macam buah, melemparkan sendiri biji-bijinya melalui berbagai mekanisme pecahnya dinding buah, yang sebagian besar berdasarkan pada peristiwa higroskopi atau turgesensi.[4] Buah-buah kering yang memecah sendiri (dehiscens), di saat masak kehilangan kadar airnya, hingga pada lengas tertentu bagian-bagian yang terkait melenting secara tiba-tiba, memecah kampuh, dan melontarkan biji-biji di dalamnya ke kejauhan. Contohnya adalah buah para (Hevea), yang sering terdengar ‘meletus’ di kala hari panas. Demikian pula berbagai macam polong-polongan (Fabaceae), yang dapat melontarkan biji hingga beberapa puluh meter jauhnya. Buah pacar air (Impatiens), karena sifat lentingnya, bahkan sering digunakan anak-anak untuk bermain.

BIJI

Biji (bahasa Latin:semen) adalah bakal biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Biji dapat terlindung oleh organ lain (buah, pada Angiospermae atau Magnoliophyta) atau tidak (pada Gymnospermae). Dari sudut pandang evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan. (Lihat pergiliran keturunan).

UMBI

Umbi merupakan satu organ dari tumbuhan yang merupakan modifikasi dari organ lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu (umumnya karbohidrat). Organ yang dimodifikasi dapat berupa daun, batang, atau akar. Bentuk modifikasi ini biasanya adalah pembesaran ukuran dengan perubahan anatomi yang sangat jelas terlihat. Umbi biasanya terbentuk tepat di bawah permukaan tanah.

Organ penyimpan tidak harus berbentuk umbi. Beberapa jenis tumbuhan menyimpan cadangan energi pada organ yang sama, tetapi tidak mengalami banyak modifikasi bentuk, sehingga tidak membentuk umbi. Tumbuhan memerlukan cadangan energi karena ia tidak bisa berpindah tempat untuk menemukan sumber energi baru atau untuk membantu reproduksi jenisnya

Macam-macam umbi

Umbi merupakan istilah generik (umum). Secara biologi, umbi dibedakan berdasarkan organ dasar yang dimodifikasi.

* Umbi lapis (bulbus) merupakan umbi yang terbentuk dari tumpukan (pangkal) daun yang tersusun rapat, biasanya dihasilkan oleh famili Alliaceae, amaryllidaceae, dan Liliaceae;

* Umbi batang merupakan umbi yang terbentuk dari modifikasi batang. Umbi batang mampu memunculkan tunas maupun akar, sehingga kerap kali dijadikan bahan perbanyakan vegetatif. Umbi batang yang tumbuh di bawah permukaan tanah, membesar, dan mengandung banyak pati disebut sebagai tuber, biasanya dihasilkan oleh beberapa spesies Solanaceae dan Asteraceae.

* Umbi akar (tuberous root) merupakan umbi yang terbentuk dari modifikasi akar. Ketela pohon adalah salah satu contoh penghasil umbi akar. Umbi akar tidak bisa dijadikan bahan perbanyakan.

Beberapa organ yang tumbuh di bawah permukaan tanah juga kadang-kadang disebut umbi, seperti rimpang dan geragih.

Tiga yang pertama disebut sebagai organ seksual karena mutlak diperlukan dalam reproduksi seksual.

posted by : rifqi salafuddin

PENGERTIAN DASAR PENGAJARAN PERBAIKAN

PENGERTIAN DASAR PENGAJARAN PERBAIKAN

a) Pengertian

Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan kata lain pengajaran yang membuat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi perapis untuk penyembuhan. Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan / gangguan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti perbaikan belajar atau perbaikan pribadi. Remedial teaching berasal dari kata remedy (Bahasa Inggris) yang artinya menyembuhkan. Istilah pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk anak luar biasa yang mengalami berbagai hambatan dalam belajar. Tapi dewasa ini pengertian itu sudah mengalami berkembang. Sehingga anak yang normal pun memerlukan pelayanan pengajaran remedial.

b) Perbandingan Pengajaran Biasa dengan Pengajaran Perbaikan

1. Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.

2. Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.

3. Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan).

4. Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerjasama).

5. Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi, yaitu dengan penggunaan tes diagnostik, sosiometri, dsb.

6. Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekayan individual.

7. Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

c) Tujuan Pengajaran Perbaikan

Secara umum tujuan pengajaran perbaikan tidak berbeda dengan pengajaran biasa yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara khusus pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan oleh phak sekolah melalui proses perbaikan.

Secara terperinci tujuan pengajaran perbaikan, yaitu :

  1. Agar siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya.
  2. Dapat memperbaiki / mengubah cara belajar siswa ke arah yang lebih baik.
  3. Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
  4. Dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang jauh lebih baik.
  5.  Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa.

d) Fungsi Pengajaran Perbaikan

Dalam keseluruhan proses belajar-mengajar, pengajaran perbaikan mempunyai fungsi :

1. Korektif , artinya dalam fungsi ini pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan.

2. Pemahaman, artinya dari pihak guru, siswa atau pihak lain dapat memahami siswa.

3. Penyesuaian, penyesuaian pengajaran perbaikan terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya. Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil terbaik lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan sifat, jenis, dan latar belakan kesulitan sehingga mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

4. Pengayaan, maksudnya pengajaran perbaikan itu dapat memperkaya proses belajar mengajar melalui metode pengajaran yang bervariasi.

5. Akselerasi, maksudnya pengajaran perbaikan dapat mempercepat proses belajar, baik dari segi waktu maupun materi.

6. Terapsutik, maksudnya secara lagsung atau tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang.

4. Sifat Khusus Pengajaran Perbaikan dengan Masalahnya

Kekuasaan pengajaran perbaikan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang diderita siswa. Tekanannya pada usaha perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar menyangkut masalah cara belajar, metode belajar, materi, alat, dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar. Sehubungan dengan masalah ini maka perlu sekiranya guru memahami prinsip-prinsip permasalahan yang menyangkut :

a. Cara belajar siswa

Pada dasarnya siswa belajar dengan cara-cara sebagai berikut :

1. Eksplorasi

Siswa mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sesuatu melalui seluruh indranya, kemudian dikembangkan melalui berbagai usaha, melakukan sendiri dengan bermacam-macam alternatif.

2. Coba-coba

Melalui trial and error, siswa belajar memecahkan suatu permasalahan.

3. Rasa tidak senang

Dengan merasa tidak senang, siswa akan belajar menghindari kesalahan.

4. Rasa gembira

Sesuatu yang menyenangkan cenderung untuk mengulang, dan sebaliknya sesuatu yang tidak enak cenderung untuk dihindari.

5. Imitasi

Belajar melalui peniruan / pengamatan yang paling sering dilakukan.

6. Partisipasi

Belajar melalui peniruan, berati siswa berpartisipasi secara aktif (learn be doing), itulah prinsip pedagogik dewasa ini.

7. Komunikasi

Semakin mudah komunikatif, makin menarik sesuatu hal untuk dipelajari.

b. Kondisi belajar

Kondisi Umum

a) Stimulasi belajar

Pesan yang diterima oleh siswa berupa stimulus yang berbentuk visual, auditif, verbal, taktil, dsb. Dalam kegiatan belajar mengajar, bahan yang disajikan harus benar-benar diinformasikan dan dapat diterima oleh siswa dengan baik dengan cara prinsip pengulangan, dimana pinsip ini akan membantu siswa lebih dari sekali kesempatan untuk menerima dan menstruktur pesan yang disampaikan oleh guru.

b) Perhatian dan Motivasi

Siswa harus memperhatikan stimulus belajar yang mengandung pesan dan harus mereka terima untuk berlangsungnya kegiatan belajar. Oleh karena itu, sesuatu yang paling penting dalam kegiatan belajar dan untuk mempertahankan perhatian diperlukan adanya motivasi sehingga kegiatan belajar berlangsung dan berhasil baik.

c) Respons yang dipelajari

Oleh karena belajar itu proses aktif, maka siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang dipelajari. Pelibatan ini meliputi perhatian, proses internal, dan tindakan yang nyata. Karena itu, agar hasil belajar dapat dinilai, maka tujuan harus dirumuskan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati.

d) Penguatan dan umpan balik

Secara teori, bila suatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan untuk mengulanginya. Siswa harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas.

e) Pemakaian dan pemindahan

Salah satu prinsip pemakaian kembali informasi yang telah dipelajari adalah mind (jiwa) harus membuat suatu alamat terhadap stimulus yang tersedia pada saat dibutuhkan.

f) Kemampuan belajar

 

post by : rifqi salafuddin

MASALAH KESULITAN BELAJAR DAN UPAYA PENANGANNYA

MASALAH KESULITAN BELAJAR DAN UPAYA PENANGANNYA

a. Kesulitan Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

 

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

 

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

 

Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif .

 

Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :

 

1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh   kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.

2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah

3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.

4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.

5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.

6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

 

Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :

 

1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).

2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.

3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)

 

b. Diagnostik mengatasi kesulitan belajar

 

Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya, para pelajar seringkali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar.

 

Sementara itu, setiap siswa dalam mencapai sukses belajar, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan, sehingga menimbulkan masalah bagi perkembangan pribadinya.

 

Menghadapi masalah itu, ada kecendrungan tidak semua siswa mampu memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat.

 

Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus berperan turut membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Seperti diketahui, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sekurang-kurangnya memiliki 3 fungsi utama. Pertama fungsi pengajaran, yakni membantu siswa dalam memperoleh kecakapan bidang pengetahuan dan keterampilan. Kedua, fungsi administrasi, dan ketiga fungsi pelayanan siswa, yaitu memberikan bantuan khusus kepada siswa untuk memperoleh pemahaman diri, pengarahan diri dan integrasi sosial yang lebih baik, sehingga dapat menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.

 

Setiap fungsi pendidikan itu, pada dasarnya bertanggung jawab terhadap proses pendidikan pada umumnya. Termasuk seorang guru yang berdiri di depan kelas, bertanggung jawab pula atau melekat padanya fungsi administratif dan fungsi pelayanan siswa. Hanya memang dalam pendidikan, pada dasarnya sulit memisahkan secara tegas fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya, meskipun pada setiap fungsi tersebut mempunyai penanggung jawab masing-masing. Dalam hal ini, guru atau pembimbing dapat membawa setiap siswa kearah perkembangan individu seoptimal mungkin dalam hubungannya dengan kehidupan sosial serta tanggung jawab moral. Salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas dan peranannya ialah kegiatan evaluasi. Dilihat dari jenisnya evaluasi ada empat, yaitu sumatif, formatif, penempatan, dan diagnostik.

 

1. Diagnosis

Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa.

 

2. Prognosis

Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.

 

3. Tes diagnostik

Tes dignostik kesulitan belajar sendiri dilakukan melalui pengujian dan studi bersama terhadap gejala dan fakta tentang sesuatu hal, untuk menemukan karakteristik atau kesalahn-kesalahan yang esensial. Tes dignostik kesulitan belajar juga tidak hanya menyangkut soal aspek belajar dalam arti sempit yakni masalah penguasaan materi pelajaran semata, melainkan melibatkan seluruh aspek pribadi yang menyangkut perilaku siswa.

post by : rifqi salafuddin

Evaluasi Belajar dan Pembelajaran

Evaluasi Belajar dan Pembelajaran

1. PENGERTIAN KEDUDUKAN DAN SYARAT-SYARAT UMUM EVALUASI

Mengapa evaluasi hasil belajar pembelajaran perlu dilakukan? Karena dengan evaluasilah, akan diketahui apakah proses belajar mengajar, dimana pembelajaran dan guru berinteraksi, telah mencapai sasaran yang dikehendaki ataukah belum. Secara rinci, alasan-alasan bagi perlunya evaluasi pembelajar adalah sebagai berikut:

1.   Kemampuan mengajar guru akan diketahui, setelah diadakan evaluasi.

2.   Taraf penguasa pembelajaran terhadap materi pelajaran yang diberikan akan diketahui setelah diadakan evaluasi.

3.   Letak kesulitan pembelajar akan diketahui setela

3.   h diadakan evaluasi.

4.   Tingkat kesukaran dan kemudahan bahan pelajaran yang diberikan pembalajar akan diketahui setelah diadakan evaluasi.

5.   Termanfaatkan didalmya sarana dan fasilitas pendidikan akan diketahui setelah adanya evaluasi.

6.   Remidi-remidi spa saja yang dapat diberikan kepada pembelajaran yang mengalami kesulitan juga. akan diketalmi setelah melihat hasil

7.   Tujuan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan akan diketabui seberapa tingkat pencapaiannya setelah diadakan evaluasi.

8.   Pembelajar dapat dikelompokkan kedalam kelompok mana juga akan diketahui setelah evaluasi.

9.   Pembelajar maua yang perlu mendapatkan prioritas dalam bimbingan penyuluhan, dan mana yang tidak menjadi prioritas akan diketahui setelah evaluasi.

Jelaslah bahwa evaIuasi sangat penting dilakukan guna memberikan pelayanan sebaik mungkin, dari lebih jauh sangat penting bagi pencapaian tujuan pendidikan.

1 Pengertian evaluasi

Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan dari kata evaluation dalam bahasa inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian. Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang yang menilai atau menaksir disebut sebagai evaluator (Echols, 1975).

Secara harfiah kata evaluasi berasal dan bahasa Inggris Evaluation; dalam bahasa Arab: al-taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti: pnilaian. Akar katanya adalah value; dalam Babasa Arab ; al-qimah; dalam bahasa Indonesia berarti; nilai. Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan (educationnal evaluation = al-Taqdir al-Tarbawiy) dapat diartikan sebagai penilaian-penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.

Adapun dui segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dam Gerald W. Brown (1977): Evaluation refer to act or process to determining the value of some thing. Menurut definisi int, maka istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Apabila definisi evaluasi yang dikemukakan oleh Edwin Wandt dan geral W Brown itu untuk memberikan definisi tentang evaluasi pendidikan, maka evaluasi pendidikan itu dapat diberi pengertian sebagai; suatu tindakan atau kegiatan (yang dilaksanakan dengan maksud) atau suatia proses (yang berlangsung dalam rangka) menetukan nulai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Atau singkatnya: Evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya.

Mengingat sangat luasnya pembicaraan tentang penilaian pendidikan, maka dalam buku ini, pembicaraan hanya akan dibatasi pada penilaian atau evaluasi yang dilaksanakan di sekolah. Berbkara tentang pengertian evaluasi pendidikan, di tanah air kita, lembaga administrasi negara mengemukakan batasan mengenai Evaluasi Pendidikan sebagai berikut:

1)      Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibanding tujuan yang telah ditentukan;

2)      Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan

Secara teminologis, evaluasi dikemukak oleh para ahli sebagai berikut:

1.   Grounlund (1976) mengartikan evaluasi sebagai berikut:

a systematk process of determining the extent to whkh instructional objectives are achieved by pupil.

1.   Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan berkenaan dengan proses kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu.

2.   Raka Joni (1975) mengartikan evaluasi sebagai berikut: ‘suatu proses dimana kita mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan mempertimbangkan patokan-patokan tertentu, patokan-patokan mana mengandung pengertian baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi symat dengan perkataan lain kita menggunakan Value Judgement.

Berdasarkan pengertian pengertian diatas, sangatlah jelas bahwa evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menentukan patokan-patokan tertentu untuk mencapai suatu Tujuan. Evaluasi hasil belajar pembelajaran adalah suatu proses menentukan nilai prestasi belajar pembelajar dengan menentukan patokan patokan tertentu guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

2 Perbedaan Pengukuran dan Penilaian

Sebelum dilakukan evaluasi terkhir dahulu dilakukan pengukuran.Secara etimologis, pengukuran merupakan terjemahan darl measurement (Echols,1975). Secara terminologis, pengukuran diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetalmi sesuatu sebagaimana adanya. Oleh karena sesuatu yang diukur itu bermaksud diketahui secara apa adanya, maka dalam pengukuran sedikitpun penafsiran mengenai sesuatu. Sebagaimana adanya mengandung sesuatu pengertian bahwa sesuatu yang diukur tidak holeh dibandingkan dengan sesuatu yang lainnya.

Jika pengertian evaluasi dan pengukuran tersebut ditarik ke setting belajar dan pembelajaran, maka dapat dikemukakan pengertian sebagai berikut:

1.   Pengukuran adalah suatu upaya atau aktivitas yang dimaksudkan untuk mengetahui belajar pembelajaran sebagaimana adanya, meliputi: hasil belajar pembelajaran. proses belajar pembelajaran, mereka yang terlibat dalam belajar pembelajaran (pembelajar dan guru).

2. Penilaian atau evaluasi adalah suatu aktivitas yang bermaksud menentukan nilai belajar pembelajaran (baik belumnya/tidaknya, berhasil belumnya/tidaknya, memadai belum/tidaknya, belajar pembelajaran, yang meliputi hasil belajar, proses belajar dan mereka yang terlibat dalam belajar pembelajaran ).

Oleh karena pengukuran adalah salah satu kegiatan yang berada dalam evaluasi, maka orang yang mengevaluasi sebenamya juga melakukan aktivitas pengukuran. Evaluasi pendidikan. dengan demikian juga mencakup penguluaran pendidikan. Evaluasi belajar pembelajaran juga mencakup pengukuran belajar dan pembelajaran.

3 Pengertian Evaluasi Dalam Proses Pendidikan

Berbkara tentang pengertian istilah evaluasi pendidikan ditanah air kita, Lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi pendidikan sebagai berikut: Evaluasi pendidikan adalah:

1.   Proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan

2.   Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan

Bertitik tolak dari uraian diatas, maka apabila defenisi tentang evaluasi pendidikan itu dituangkan dalm bentuk bagan berikut.

Bagan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa dalam proses penilaian dilakukan pembandingan antara informasi- infomasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian diambil keputusan atau dirumuskan kebijaksanaan tertentu. Kriteria atau tolak ukur yang dipegangi tidak lain adalah tujuan yang sudah ditentikan terlebih dahulu sebelum kegiatan pendidikan itu dilaksanakan..

 

 

post by : rifqi salafuddin

PENDEKATAN DAN METODE DALAM PEMBELAJARAN

PENDEKATAN DAN METODE DALAM  PEMBELAJARAN

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:

(1) pendekatan pembelajaran,

(2) strategi pembelajaran,

(3) metode pembelajaran;

(4) teknik pembelajaran;

(5) taktik pembelajaran; dan

(6) model pembelajaran.

Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1 . Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.

2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.

4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:

(1)   ceramah

(2)    demonstrasi;

(3)    diskusi;

(4)   simulasi;

(5)    laboratorium;

(6)   pengalaman lapangan;

(7)    brainstorming;

(8)   debat,

(9)    simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat).  Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

 

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

DATA INVENTARIS LABORATORIUM BIOLOGI

DATA INVENTARIS LABORATORIUM BIOLOGI

Lab 1 Lab 2
1 . Altimeter 1.Water bath
  1. Ph Meter
2.Lemari Kaca
  1. Soil Tester
3.Apar
  1. Preparat Awetan
4.Ruang Asam
  1. Lux Meter
5.Corong buchner
  1. Barometer
6.Kompor Listrik
  1. Jangka Sorong
7.Meja Dinding
  1. Luope
8.Pipet
  1. Neraca
9.Mikroskop
10.Kompas
11.Termometer
12. Higrometer
13. Lemari pendingin
14. Patung organ tubuh/Torso
15. Bunsen
16. Tata tertip praktikan pada lab.Biologi
17. Papan Tulis
18. Sup Kontak
19. Tabung firemax
20. Oven
21. Lemari Arsip
22. Stirrer
23. Coloni counter
24. Timbangan digital
25. Inkubator
26. Buret
27. Cawan petri
28. Beker glass
29. Autoklaf
30. Gelas kimia
31. Labu ukur
32. Spatula

Contoh Alat lab.1:

  1. 1.      Altimeter

Fungsi                         :  Mengukur Ketinggian

Cara Penyimpanan     :  Lemari Kaca yang tertutup

Cara Kerja                  :   -Letakkan altimeter di atas permukaan tanah

-Melihat skala yang ada pada altimeter

Prinsip kerja                : Alat yang menggunakan prinsip kerja tekanan udara (barometrik), yaitu setiap ketinggian memiliki lapisan udara dan tekanan yang berbeda-beda

  1. 2.      Ph Meter

Fungsi                         :  Mengukur pH Larutan

Cara Penyimpanan     :Cabinet, kering, elektroda terlindungi dan tidak kering dari larutan KCl jenuh, Ketika disimpan, pH meter tidak boleh berada pada suhu ruangan yang panas karena akan menyebabkan sensor suhu pada alat cepat rusak.

Cara Kerja                  : Mencelupkan alat ke air Melihat skala dan menekan tombol

Prinsip kerja                :pH adalah didasarkan pada potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui.

 

  1. 3.      Soil tester

Fungsi                         : Mengukur ph Kelembapan tanah

Cara Penyimpanan     :  Lemari Kaca yang tertutup

Cara Kerja                  :

1)      Menancapkan ujung alat runcing ke dalam tanah hingga sel-selnya terbenam dalam tanah dan membiarkan beberapa saat.

2)      Melihat skala besar/atas untuk penentuan pH tanah.

3)      Menekan tombol yang berada di samping alat untuk menentukan kelembaban tanah setelah dibiarkan beberapa saat dan melihat skala kecil/bawah sebagai penunjuk kelembaban tanah.

Prinsip kerja                :Masukan ujung tester ke dalam tanah,kemudian muncul hasil ph pada kelembaban.

  1. 4.      Lux Meter

Fungsi                         :  Untuk mengukur intensitas atau jumlah cahaya di sekitar kita

Cara Penyimpanan     :  Ditempatkan dalam lemari kaca tertutup.

Cara Kerja                  :Bila intensitas cahaya di tempat tersebut cukup menekan x1 atau  x10

Namun bila tidak bereaksi dilakukan alternatif lain dengan menutup   ½ atau ¼ bagian dari alat tersebut.Menghitung intensitas dengan melihat skala x2 (bila ½).

Prinsip kerja                : Diperlukan sebuah sensor yang cukup peka dan linier terhadap cahaya.sehingga cahaya yang diterima oleh sensor dapat diukur dan ditampilkan pada sebuah tampilan pada sebuah tampilan digital.

  1. 5.      Preparat awetan

Fungsi                         : Untuk kejelasan objek dan antisipasi dalam kelangkaan objek yang        akan di amati.

Cara Penyimpanan     : Di simpan di dalam lemari baik yang preparat awetan basah dan kering

Cara kerja                   : Mengamati preparat awetan tersebut dengan melihat dari berbagai sudut sehingga praktikan dapat mengetahui dengan jelas preparat yang di amati.

Prinsip kerja                :karena dalam preparat basah mengandung formalin di campur AQUADES di himbau jagan sampai tutup toples dibuka karena akan mengakibatkan cairan akan menghambar dan dapat membuat pusing,pada preparat awetan kering jagan di buka karena akan merusk bentuk asli perparat.

  1. 6.      Barometer

Fungsi                         :  Mengukur kecepatan angin

Cara Penyimpanan     :  Di simpan dalam lemari yang tertutup.

Cara Kerja                  :  Letakkan pada pada pohon

Kemudian melihat skala.

Prinsip kerja                : Mengetahui berapa besar kecepatan angin.

  1. 7.      Jangka sorong

Fungsi                         : Mengukur massa

Cara Penyimpanan     : Disimpan dalam lemari tertutup.

Cara Kerja                  :

  1. melihat  posisi angka nol pada skala nonius terhadap skala utama.
  2. Mencari garis skala nonius yang berimpit dengan skala utama.
  3. mengukur panjang benda dengan mengunakan jangka sorong.
  4. Mengulangi  percobaan tersebut sebanyak 5 kali untuk memperoleh ketelitian

Prinsip kerja                : Jepit objek dengan pengukur,pada gagang alat akan muncul skala angka ukuran objek.

  1. 8.      Loupe

Fungsi                         : Untuk memperbesar suatu objek yang akan diamati,benda-benda kecil yang tidak dapat di lihat dengan mata secara langsung dengan menggunakan lensa cembung atau lensa positif

Cara Penyimpanan     : Di simpan dalam almari kaca yang dalam keadaan kering.

Cara kerja                   : Di letakkan di atas objek yang akan di amati sehingga terjadi perubahan dalam bentuk objek yang awal kecil menjadi besar dan dapat di amati dengan jelas.

Prinsip kerja                :Alat yang menggunakan prinsip kerja tekanan udara (barometrik), yaitu setiap ketinggian memiliki lapisan udara dan tekanan yang berbeda-beda.

  1. 5.       Neraca

Fungsi             : untukmenghitung massa jenis.

Cara penyimpanan     : di tempatkan dalam lemari kaca yang tertutup.

Cara kerja                   : Anak timbanganberada pada nerecaitu sendiri. Kemampuan  pengukuran dapat diubah dengan menggeser posisi anak timbangan sepanjang lengan anak timbangan dapat digeser menjauhi atau mendekati poros neraca. Massa benda dapat diketahui dari penjumlahan masing – masing posisi anak timbangan sepanjang lengan. Dan memiliki tingkat ketelitian lebih baik.

Prinsip kerja                : keseimbangan  massa.

  1. 6.      Kompas

Fungsi                         : Digunakan untuk petunjuk arah.

Cara penyimpanan     : Di simpan dalm lemari kaca yang tertutup.

Cara kerja                   :Dengan meletakan dalam suatu tempat untuk petunjuk arah agar mengetahui arah.

Prinsip kerja                :Dengan menggunakan medan magnet.kompas dapat menunjukkan kedudukan dari kutub-kutub magnet bumi. Dengan ketentuan bahwa kompas terganggu oleh magnet dan medan listrik yang berada disekitar kompas.

  1. 7.      Termometer

Fungsi                         :Untuk mengukur suhu

Cara penyimpanan     : Diletakan pada ruangan dan tempat kering.

Cara kerja                   :Menggantung thermometer pada suatu tempat, kemudian melihat skalanya.

Prisip kerja                  :Zat untuk termometer haruslah zat cair dengan sifat termometrik artinya mengalami perubahan fisis pada saat dipanaskan atau didinginkan ,misalnya raksa dan alkohol.

 

  1. 8.      Higrometer

Fungsi                         :Mengukur Kelembapan udara relative (RH)

Cara penyimpanan     :Di dalam Lemari kaca

Cara kerja                   :Meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius.

Prisip kerja                  :Dengan menggunakan dua thermometer.Thermometer pertama dipergunakan untuk mengukur suhu udara biasa dan yang kedua untuk mengukur suhu udara jenuh/lembab (bagian bawah thermometer diliputi kain/kapas yang basah)

 

  1. 9.      Lemari pendingin

Fungsi :                       : Untukmenjagakesegaranbahan yang beradadidalamnya.

Cara penyimpanan     : Ditempat yang cukupudara.

Cara kerja                   :Memasukkanbahanlemaries.

Prisip kerja                  : Kulkas menyedot panas keluar dan mengubah fase operasi dengan sebuah putaran refrigerator. Kulkas terdiri dari dua bagian, yaitu lemari pendingin dan lemari pembeku.

  1. 10.  Patung organ tubuh/torso

Fungsi                         :Guna mendeskripsikan nama, letak, serta fungsi organ tubuh tersebut.

Cara penyimpanan     : Di atas lemari.

Cara kerja                   :Di demonstrasikan guru di depan kelas guna mendeskripsikan nama, letak, serta fungsi organ tubuh tersebut.

Prinsip kerja                :Torso bagian-bagian atau komponen organ tubuh manusia tersebut dapat dilepas dengan mudah

  1. 11.  Bunsen

Fungsi                         :Untuk memanaskan medium, mensterilkan  jarum inokulasi dan alat-alat yang terbuat dari platina dan nikrom seperti jarum platina dan ose

Cara penyimpanan     :Disimpan dalam lemari kaca.

Cara kerja                   :a.Menyalakan Bunsen.

b.Memanaskan alat-alat tersebut di atas api sampai pijar.

Prisip kerja                  :Menggunakan prinsip kapilaritas,spitus tertarik dan merembes ke atas,sehingga saat bunsen ujung bunsen yang disulut api tetap hidup karena spirtus naik ke atas.

  1. 12.  Tata tertip praktikan pada lab.biologi
  • Praktikan datang dengan tepat waktu
  • Setiap kali praktikum,praktikan harus membawa

–          Petunjuk praktikum

–          Kartu daftar hadir

–          Pensil dan alat tulis yang relevan

–          Jas laboratorium

–          Bahan dan alat yang sesuai dengan praktikum yang akan dilaksanakan

  • Praktikan yang menghilangkan atau merusakkan alat,baik sengaja ataupun tidak,harus mengganti dengn alat yang kualitasnya sama dalam waktu yang di tentukan.
  • Setiap praktikum praktikan harus membersihkan dan mengembalikan alat seperti sediakala. Ruangan laboratorium yang di tinggalkan harus dalam keadaan bersih.
  • Setiap kali praktikum,praktikan harus membuat laporan sementara yang di acc oleh pengampu. Laporan praktikum yang sesungguhnya dikumpulkan dalam waktu yang ditentukan, dan laporan sementara sebagai lampiran.
  • Praktikan dilarang melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan keselamatan jiwa maupun laboratorium seisinya.
  1. 13.  Papan tulis
  1. 14.  Sup kontak
  2. 15.  Tabung firemax

Fungsi                         :Untukmemadamkanapisaatterjadikebakarankecildalamlaboratorium.

Cara penyimpanan     :Letakan dekat dinding atau digantung pada dinding yang penempatannya yang strategis dekat pintu agar memudahkan dalam penggunaan apabila trjadi kecelakaan kebakaran.

Cara kerja                   :Disemprot pada benda yang terbakar.

Prinsip kerja                :Gas oksigen ke titik kebakaran ,membantu pada proses pemadaman api

  1. 16.  Oven

Fungsi                         : Untuk mengeringkan bahan-bahan yang menggandung air.

Cara penyimpanan     : Diatas meja dinding dan jaga situasi agar tidak lembab.

Cara kerja                   :

  1. Tombol POWER (tombol yang digunakan untuk menghidup/ mematikan oven.
  2. Knop berwarna biru berfungsi  untuk menaik turunkan kecepatan putaran kipas dan terdapat tombol untuk menyalakan da mematikan kipas.
  3. Pada bagian depan oven terdapat 2 layar yang menunjukan suhu,layar PV menunjukan suhu alat sedangkan layar SV menunjukan  suhu yang diinginkan.
  4. Tombol SET,UP (panah keatas) dan DOWN (panah kebawah) digunakan untuk mensetting suhu/waktu yang diinginkan.
  5. Dalam penggunaan oven,setelah pintu oven dibuka,alat yang ingin dikeringkan dimasukan kedalam dan pintu ditutup kembali.
  6. Setelah  itu,tambol POWER ditekan,kipas dinyalakan dan kecepatan kipas juga diatur.
  7. Kemudian set suhu dengan menekan tombol SET.layar SV akan menunjukkan suhu yang hampir sama dengan layar SV.
  8. Tunggu hingga layar PV menunjukkan suhu yang hampir sama dengan layar SV.
  9. Lalu oven dimatikan dengan menekan tombol POWR alat dikeluarkan dari dalam oven.

Prinsip kerja                : dengan gelombang elektromagnetik super tinggi.

  1. 17.  Lemari arsip
  2. 18.  Stirrer

Fungsi                         :Mengadukdanmemanaskanair

Cara penyimpanan     :Simpan ditempat yang aman dan bersih.

Cara kerja                     :

• Siapkan hot plate magnitik stirrer
• Siapkan bahan nutrisi yang akan dicampur/ diramu sesuai dengan kebutuhan
• Masukkan nutrisi kedalam Erlenmeyer
• Letakkan Erlenmeyer dan kapsul pengaduk di atas hot plate magnetic stirrer
• Nyalakan dengan menekan tombol “on”
• Putar tombol untuk mengatur kecepatan putaran kapsul pengaduk pada Erlenmeyer
• Biarkan ramuan tersebut bercampur sampai homogen dan mendidih
• Putar panel pengatur kecepatan putar kearah kiri sehingga kapsul magnetic berhenti
• Matikan alat dengan menekan tombol “off”:
• Angkat Erlenmeyer dengan menggunakan lap
• Bersihkan alat, sehingga dalam keadaan siap pakai.

Prinsip kerja                 :

• Hot plate magnetic stirrer digunakan untuk memasak/ meramu segala macam bahan nutrisi dengan melibatkan pengaduk dan pemanas.
• Pengadukan dan pemanas yang dihasilkan oleh alat ini bersumber pada energi listrik.
• Besarnya kecepatan pengaduk dan pemanasan dapat diatur berdasarkan keperluan.

  1. 19.  Coloni counter

Fungsi                         :Mengitungjumlahbakteri,Untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawankarena adanya kaca pembesar

Cara penyimpanan     :DidalamLemari yang bersih.

Cara kerja                   :Dilengkapidenganskala/ kuadran yang sangat bergunauntukpengamatanpertumbuhankolonisangatbanyak. Jumlahkoloni padacawan Petri dapatditandaidandihitungotomatis yang dapatdireset.

Prinsip kerja                :Penghitungan jumlah koloni mikroba menggunakan arus listrik sebagai sumber penghitung jumlah koloni.

  1. 20.  Timbangan digital

Fungsi                         :menimbang digital dalamukuran mg

Cara penyimpanan     :DidalamLemarikaca.

Cara kerja                   :

  1. Pastikan bahwa timbangan sudah menyala.
  2. Pastikan timbangan menunjukkan angka ”nol”( jika tidak perlu di koreksi).
  3. Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda.
  4. Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.
  5. Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.

 

Prinsip kerja                :Timbangan ini digunakan untuk menimbang berbagai macam bahan dengan ketelitiandibawah 1 gram. Penunjukan angka berat bahan dengan menggunakan arus listrik sebagai sumber energi.

 

  1. 21.  Inkubator

Fungsi                         :Untuk menginkubasi atau mengembangbiakkan,pertumbuhan mikrobakteri.

Cara penyimpanan     :Di tempat yang bersihdansuhuudaratercukupi.

Cara kerja                   :Masukan bahan yang di dalamnya terdapat mikrobakteri yang akan di kembangbiakan tunggu hingga waktu yang di buthkan sehingga bakteri berkembang.

Prisip kerja                  : Bagian dalamnya terdapat rak yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan mikroorganisme yang akan diinkubasi.

  1. 22.  Buret

 

Fungsi                         : Untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi.

Cara Penyimpanan     : Di tempatkan di lemari kaca

Cara kerja                   :Buret sangatlah akurat sehingga dalam pengukuran haruslah berhati-ati dan teliti untuk menghindarigalat sistematik. Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan untuk menghindari galat paralaks. Bahkan ketebalan garis ukur juga mempengaruhi; bagian bawah meniskus cairan harus menyentuh bagian atas garis. Kaidah yang umumnya digunakan adalah dengan menambahkan 0,02 mL jika bagian bawah meniskus menyentuh bagian bawah garis ukur. Oleh karena presisinya yang tinggi, satu tetes cairan yang menggantung pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima, biasanya dengan menyentuh tetasan itu ke sisi labu dan membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut.

 

  1. 23.  Cawan petri

Fungsi                         :Untuk membiakkan sel. Dan biasanya cawan petri digunakan sebagai wadah untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian.

Cara penyimpanan     :Di tempatkan dalam lemari dengan suhu tidak lembab.

Cara kerja                   :Cawan petri selalu berpasangan, untuk ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Cara kerjanya dengan memasukan bakteri, khamir, spora atau  biji-bijian kedalam cawan petri  keudian ditutup,amati pembiakan sel yang  terjadi.

Prisip kerja                  :Cawan petri biasanya disterilkan bersama dengan kertas saring di dalamnya. Cawan petri perlu dicuci bersih kemudian dikeringkan, setelah kering dibungkus dengan kertas putih cokelat untuk disterilisasi dengan oven. Alat ini berfungsi untuk pembuatan kultur media.

  1. 24.  Beker glass

Fungsi                         : Digunakan untuk menggaduk,mencampur dan memanaskan cairan yang biasanya             digunakan dalam laboratorium.

Cara penyimpanan     :Ditempatkan dalam lemari kaca yang tertutup.

Cara keja                    :Beaker glass biasadigunakanuntukmembuatlarutan-larutansepertilarutanHCl, NaOH, asamsulfatdansebagainya. dalammembuatlarutandengan beaker glass harusdiperhatikan K3nya, yaituapabilamembuatlarutanasamencermakadidalambeakerglassdiletakkansejumlahaquadestterlebihdahulukemudiandimasukkansejumlahasamsesuaidenganperhitungantakaran. Yang dimaksuddengantakarandisiniadalahseberapabanyakasam yang akandipipetuntukmembuatsuatularutandengankonsentrasitertentu. Beaker glass yang berfungsisebagaipemanas, maksudnyaadalah beaker glass digunakanuntukmemeanaskanbahanataularutan, misalnyamemanaskanaquadestuntukmembuatlarutanNaOH.

Contoh pada perlakuan uji biuret;

  • mencampurkan 2ml sususegardengan 2ml NaOH 10% dalamtabungreaksi, kemudiandikocok
  • SelanjutnyamenambahkanbeberapatetesCuSO , maksimum 10 tetes, kocokkembalisehinggaterbentukwarnabirulembayung
  • mengulangi test initerhadapputihtelur
  • Bilamenggunakanputihtelur, tidakdiletakkan di penangas air.

 

  1. 25.  Autoklaf

Fungsi                         :Untuk mensterilkanberbagai macam alat dan bahan praktikum.

Cara penyimpanan     :Pada tempat dalam keadaan lembab dan kering.

Cara kerja                   :

–       dikeluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf.jika air kurang dari batas yang ditentukan,maka dapat ditambah air sampai batas tersebut.

–       Gunakan air hasil hasil destilasi.untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat

–       Masukkan peralatan dan bahan,jika mensterilisasi botol tertutup ulir,maka tutup harus dikendorkan.

–       Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yng keluar dari bibir autoklaf,klep pengaman jagan dikencangkan terlebih dahulu.

–       Nyalakan autoklaf .diatur timer waktu minimal 15 menit pada suhu 121 C.

–       Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kempartemen autoklaf dan berdesak keluar dan klep pengaman.

–       Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai, perhitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.

–       Jika alarm tanda selesai berbunyi,maka tunggu tekanan dalam kompertemen turun hingga sama dengan tekanan udara dilingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol)

–       Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan dikeluarkan isi autoklaf denag hati-hati.

Prinsip kerja                : Menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi 121 C selam kurang lebih 15 menit.

  1. 26.  Gelas kimia

 

Fungsi                         :Tempat untuk melarutkan zat yang tidak butuhketelitian tinggi

Cara penyimpanan     :Disimpan dalam lemari kaca yang dalam keadaan tidak lembab.

Cara kerja                   :Melarutkan zat yang tidak butuh ketelitian tinggi ,misalnya pereaksi/reagen untuk analisa kimia kualitatif atau untuk pembuatan larutan standar sekunder pada analisa titrimetri/volumetri.terdapat berbagai ukuran mulai dari 25 mL sampai 5 liter.jadi tidak cocok untuk pembuatan larutan yang perlu ketelitian tinggi (secara kuantitatif)

Prinsip kerja                :Menggunakan skala (mililiter) pada gelas sebagai pengukur volume

  1. 27.  Labu ukur

 

 

Fungsi                         : Untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan penggunaan pipet.

Cara penyimpanan     :Disimpan dalam lemari kaca dengan keadaan kering dan tertutup

Cara kerja                   :Sebelumdigunakanlabuukurterlebihdahuludicucimenggunakan.sabun agar zat-zat yang tidak dibutuhkan dapatterlarutdanakhirnyaterbuang,lbuukurharusdalamkeadaankering.

Ada beberapalangkahdalammempersiapkansuatularutandenganmolaritastertentu:

  • Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ).
  • Ditambahkan air suling.
  • Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut
  • Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu.
  • Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam.

Prinsip kerja                :Sama dengan cara kerja.

 

  1. 28.  SPATULA

Fungsi                         : Alat untuk mengambil obyek,berbentuk sendok kecil,pipih dan bertangkai.juga untuk mengaduk dalam pembuatan larutan kecuali larutan asam.

Cara penyimpanan     : Disimpan dalam lemari kaca yang tertutup.

Cara kerja                   :Sebatang kaca yang berdiameter 4 mm, dipotong menurut panjang yang sesuai dan ujung – ujungnya dibulatkan dengan nyala Bunsen. Batang itu panjangnya seharusnya 20 cm untuk digunakan pada tabung reaksi dan 8 – 10 cm untuk pinggan dan gelas piala kecil. Pipa kaca berongga tidak boleh digunakan sebagai batang pengaduk. Suatu batang yang satu ujungnya runcing yang dibuat dengan memanaskan sebatang batang kaca pada nyala, kemudian menarik pada waktu masih lunak seperti dalam membuat jet kaca dan menatahkan menjadi dua, digunakan untuk melubangi ujung kerucut kertas saring untuk meindahkan isi kertas saring ke bejana lain, dengan semprotan air dari sebuat botol cuci.

Prinsip kerja                :Politena  pada batang pengaduk dan suatu dayung kipas pada kedua ujungnya berfungsi sebagai policeman yang memusatkan pada temperatur laboratorium,dayung dapat dilekukkan dalam berbagai bentuk.

 

 

Contoh alat lab.2 :

  1. 1.      Water bath

Fungsi                         :Untuk memanasi suatu substansi yang tidak dapatdipanasi secara langsung dengan lampu Bunsen atau piring panas. Memanasilarutandenganbantuan air.

Cara penyimpanan     :Diatasmejadinding dalam keadaan ruangan kering.

Cara kerja                   :

–          Masukkan terlebih dahulu air kedalam penangas air.

–          Letakkan cincin-cincin penahan sesuai dengan wadah larutan yang akan di pakai

–                    Hidupkan alat dengan cara menekan tombol power “on” dengan tanda

–                    Tetapkan suhu dengan cara menekan lama tombol “set”sambil diputar tombol “on” hingga batas suhu yang di inginkan.

–                    Untuk menentukan berapa suhunya, dapat pula ditentukan waktunya dengancara putarkan tombol “on” ke arah / symbol timer , lalu set waktunya.

–                    Matikan alat dengan cara menekan kembali tombol power “off” dengantanda.

Prisip kerja                  :Alat pemanas yang menggunakan heater kering.heater ini dikontrol menggunakan sebuah trermostat.

  1. 2.      Lemari kaca
  2. 3.      Apar

Fungsi                         :Untukmemadamkanapiringanpadalaboratorium

Cara penyimpanan     :Tempat yang cukupudara

Cara kerja                   : Disemprotkan pada benda yang terbakar.

Prisip kerja                  : Gas oksigen ke titik kebakaran,membantu pada proses pemadaman api.

 

  1. 4.      Ruang asam

Fungsi             : Tempat atau ruangan penyimpanan bahan asam.

Cara kerja       :Untuk pekerjaan yang melibatkan zat-zat yang berbahaya seperti asam pekat dan zat yang menghasilkan gas-gas berbahaya, dibutuhkan adanya ruang asam atau lemari asam. Ruangan atau lemari asam ini dilengkapi dengan exhaust fan dan cerobong untuk saluran pembuangan dan kran air.
Bagian dalam dari lemari asam sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan terhadap panas dan zat kimia dan untuk bagian dasarnya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan.

  1. 5.      Corong buchner

 

 

Fungsi                         : Untuk penyaringan vakum.

Cara penyimpanan     :Di dalamlemarikaca

Cara kerja                   : Bahan penyaring (biasanya kertas saring ) diletakkan diatas corong tersebut dan dibasahi dengan pelarut untuk mencegah kebocoran pada awal penyaringan .cairan yang akan disaring ditumpahkan kedalam corong dan dihisap kedalam labu dari dasar corong yang berpori dengan pompa vakum.terbuat dari porselen ada juga yang terbuat dari plastik dan kaca,dibagian atasnya terdapat sebuah silinder dengan dasar yang berpori-pori.

Prisip kerja                  :prinsipnya hampir sama dengan cara kerja dari corong buchner.

 

  1. 6.      Kompor listrik

Fungsi                                     : Memanasakan bahan

Cara penyimpanan               :disimpan dalam lemari kaca yang kering.Prisip kerja                           :

  1. hubungkan kompor listrik dengan aliran listrik
  2. hidupkan tombol dengan menekan dan memutarnya
  3. sesuaikan besarnya api dengan kebutuhan

Prisip kerja                              :Menggunakan listrik sebagai sumber utama ,setelah itu diubah menjadi panas(kalor)

 

  1. 7.      Meja dinding

Fungsi                         : Sebagai tempat dalam menaruh barang-barang atau alat-alat dalam praktikum yang mempunyai berat ringan.

  1. 1.      Pipet

Fungsi                         :Untuk mengambil cairan dalam skala tetesan kecil.

Cara penyimpanan     :Simpan dalam wadah dari pipet dan disusun dengan rapikemudian di simpan dalam lemari kaca.

Cara kerja                   :Dengan memperlakukan pipet dalam keadaan berdiri tegak dengan posisi karet berada diatas,celupkan ujung pipet ke dalam larutan yang akan diambil tekan atas pipet sehingga udara keluar dan air masuk tekan terus hingga dileas saat sampai pada sesuatu yang akan di campur dengan larutan yang ada di pipet tersebut.

Prinsip kerja                :Dengan menggunakan tekanan yang diberikan oleh tangan praktikan dalam menekan atau memencet kepala pipet yang lentur dan elastis sehingga udara yang ada didalam pipet keluar digantikan oleh air yang ditarik kedalam.

 

  1. 2.      Mikroskop

Fungsi                         :Melihat benda-bnda kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata secara langsung.

Cara penyimpanan     : Disimpan dalam lemari kaca yang dalam keadaan kering.

Cara kerja                   :

  • lensa obyektif berfungsi guna pembentukan bayangan pertama dan menentukan struktur serta bagian renik yang akan terlihat pada bayangan akhir serta berkemampuan untuk memperbesar bayangan obyek sehingga dapat memiliki nilai “apertura” yaitu suatu ukuran daya pisah suatu lensa obyektif yang akan menentukan daya pisah sperimen,sehingga mampu menunjukkan struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.
  • Lensa okuler adalah lensa mikroskop yng terdapat di bagian ujung atas tabung berdekatan dengan mata pengamat,dan berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif berkisar antara 4 hingga 25 kali.
  • Lensa kondensor adalah lensa yang berfungsi guna mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan dilihat sehingga dengan pengaturan yang tepat maka akan diperoleh daya pisah maksimal.
  • Jika daya pisah kurang maksimal maka dua benda akan terlihat menjadi satu dan pembesarannya pun akan kurang optimal.

Prisip kerja                  :

  • memantulkan cahaya melalui cermin,lalu diteruskan hingga lensa obyektif
  • dilensa obyektif bayangan yang dihasilkan adalah maya,terbalik dan diperbesar
  • kemudian bayangan akan diteruskan dan dihasilkan bayangan tegak,nyata dan diperbesar oleh mata pengamat
  • semakin banyak cahaya yang dipantulkan melalui cermin ,maka akan semakin terang pula mikroorganisme yang dilihat.
  • Mikroorganisme ini memiliki perbesaran obyektif (10x an 40x)sera pembesaran okuler (10x)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.